iklan

6 Tipe Kepemimpinan dalam Sebuah Organisasi



Seorang pemimpin dalam menjalankan tugas dalam sebuah organisasi mempunyai tipe yang berbeda. Tipe kepemimpinan dapat dibagi antara lain:

1. Otokrat

Otokrat berasal dari autos = sendiri dan kratos = kekuasaan, kekuatan (Kartini Kartono, 1990: 53). 

Jadi, kepemimpinan secara otokrat artinya pemimpin menganggap bahwa organisasi yang dipimpinnya adalah miliknya sendiri. 

Seorang pemimpin yang otokrat tidak lepas dari tindakan-tindakan yang bersifat diktator. 

Pemimpin menganggap dirinya sebagai pemeran utama atau pemain tunggal dalam organisasinya, sehingga bawahan adanya hanya menurut kepada pemimpin serta menjalankan perintah-perintahnya. Pemimpin yang bersifat otokrat tidak mau menerima kritik dan saran dari siapapun.

Keputusan yang diambil tidak dapat diganggu gugat dan dianggap sah sehingga bawahannya menerima tanpa ada pertanyaan. 

Budaya “yes man” atau “sendiko dawuh” mengakar pada bawahannya. 

Dalam hal ini anggota kelompok cenderung mengabaikan perintah atau tugas, apabila tidak ada pengawasan langsung (Y. W. Sunindhia dan Ninik Widiyanti, 19988: 30).

Kepemimpinan secara otokrat dipegang oleh seorang pemimpin yang mempunyai harga diri yang besar, sehingga bawahan dianggap sebagai orang yang bodoh dan tidak tahu apa-apa, sebaliknya pemimpin merasa sebagai manusia super dan orang terpandai.

2. Militerisme

Kepemimpinn yang bersifat militerisme mempunyai sifat-sifat antara lain seperti di bawah ini (Y. W. Sunindhia dan Ninik Widiyanti, 1988: 31):

1. Untuk menggerakkan bawahannya ia menggunakan sistem perintah yang biasa digunakan dalam ketentaraan

2. Gerak-geriknya senantiasa tergantung kepada pangkat dan jabatan

3. Senang akan formalitas yang berlebih-lebihan

4. menuntut disiplin keras dan kaku dari bawahannya

5. senang akan upacara-upacara untuk berbagai keadaan

6. Tidak menerima kritik dari bawahannya

Di lihat dari sifat-sifat di atas pemimpin secara militerisme biasa memakai cara yang lazim digunakan dalam kemiliteran.

3. Paternalistis

Cara ini boleh dikatakan untuk seorang pemimpin yang bersifat “kebapakan”, ia menganggap anak buahnya sebagai “anak” atau manusia yang belum dewasa dalam segala hal, masih membutuhkan bantuan dan perlindungan yang kadang-kadang perlindungan yang berlebih-lebihan (Y. W. Sunindhia dan Ninik Widiyanti, 1988: 32). 

Dalam kepemimpinan secara paternalistis mengandung unsur kasih sayang yang berlebih-lebihan kepada bawahan serta menonjolkan sikap yang terlalu melindungi. Tipe kepemimpinan seperti ini menghambat perkembangan dari bawahan yang berpontensi karena tidak mendapatkan kepercayaan untuk menjalankan tugas secara mandiri.

4. Kharismatik

Onang Uchjana Effendi yang dikutip Y. W. Sunindhia dan Ninik Widiyanti (1988: 33), “kepemimpinan kharismatik adalah kepemimpinan berdasarkan kepercayaan”. 

Tipe kepemimpinan kharismatik mempunyai daya tarik dan kewibawaan yang luar biasa, sehingga mendapatkan dukungan dari berbagai kalangan. 

Pemimpin dianggap mempunyai kekuatan ghaib dan kemampuan-kemampuan yang lebih dari orang lain yang diperoleh dari kekuatan Tuhan Yang Maha Esa. 

Sampai sekarangpun orang tidak mengetahui sebabnya, mengapa seseorang itu mempunyai kharisma yang besar.

5. Laisser Faire (bebas)

Pada tipe kepemimpinan laisser faire ini sang pemimpin praktis tidak memimpin, sebab dia membiarkan kelompoknya berbuat semaunya sendiri (Kartini Kartono, 1990: 53). 

Pengawasan dan kontrol kegiatan dalam pekerjaan anak buahnya tidak diadakan. Semua yang berkaitan dengan jalannya kegiatan seperti pembagian tugas serta cara bekerjasama diserahkan pada anak buahnya.

Seringkali anak buah bekerja sesuai dengan kemauan sendiri-sendiri yang menimbulkan keadaan yang tidak mudah dikendalikan dan selanjutnya akan terjadi kekacauan.

6. Demokratis

Dalam pelaksanan tugas pemimpin semacam ini mau menerima saran-saran dari anak buah dan bahkan kritik-kritik dimintanya dari mereka demi suksesnya pekerjaan bersama (Y. W. Sunindhia dan Ninik Widiyanti, 1988: 38). 

Kepemimpinan demokratis memberikan bimbingan kepada bawahannya sehingga terdapat koordinasi pekerjaan dari bawahan serta menerapkan rasa tanggungjawab yang bersumber pada diri sendiri dan kerjasama atau hubungan yang baik. 

Kepemimpinan demokratis menghargai kemampuan dan potensi setiap individu, mau mendengar saran dari bawahan dan adanya spesialisasi pekerjaan artinya suatu pekerjaan ditangani orang yang mempunyai kompeten dalam bidangnya. 

Keterlibatan anak buah dalam kepemimpinan demokrasi ikut menentukan kemajuan organisasi.

Belum ada Komentar untuk "6 Tipe Kepemimpinan dalam Sebuah Organisasi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel