iklan

Biografi Muammar Khadafi, Sang Diktator Libya



Biografi Muammar Khadafi

Muammar Khadafi dilahirkan pada tahun 1942 di sebuah pemukiman Badui di padang pasir sebelah selatan kota Sirte, Libya Utara. 

Ayah Muammar bernama Mohammed Abdul Salam bin Hamed Mohammed alias Abu Meniar, ibunya bernama Aisha. Orang tua Muammar Khadafi berasal dari suku Qaddafa (Barber) yang sederhana dan taat pada ajaran agama Islam (Daliman, 2000: 152).

Ayahnya hanyalah seorang penggembala unta dan ibunya buta huruf. Suku Qaddafa adalah suku termiskin di Libya, yang hidup untuk melihat keturunannya bertebaran menjelajah jagat. Muammar Khadafi tumbuh besar tanpa kasur, listrik, lantai, atau air jernih dari pipa ledeng (Tempo, 14 Oktober 1989).

Muammar Khadafi menyelesaikan pendidikan dasar (di Sirte) dan menengah (di Sebha) di sekolah Islam yang menggunakan pengantar bahasa Arab, kemudian memusatkan studinya di bidang sejarah. Muammar Khadafi mulai tertarik pada revolusi, khususnya revolusi Mesir 1952 yang digerakkan Gammal Abdul Nasser. Pada tahun 1965 Muammar Khadafi lulus sebagai perwira, kemudian dikirim untuk pendidikan Telekomunikasi. 

Selama pendidikan di asrama Muammar Khadafi tidak suka meninggalkan asrama karena menganggap kehidupan di lingkungannya tidak baik. Kendati kelihatan kaku, Muammar Khadafi bukanlah seorang pemurung. Perasaan gembira tidak ditumpahkan dengan hura-hura dan waktu senggang digunakan dengan menunggang kuda, mendengarkan musik dan membaca (Daliman, 2000: 153).

Pada Maret 1966, Muammar Khadafi melanjutkan pendidikan militernya di Markas Besar Korps Lapis Baja kerajaan di Bavington, Inggris selama empat setengah bulan dan berhasil sebagai siswa dengan nilai terbaik. Di akademi militer, Muammar Khadafi bertemu dengan para sahabatnya yang beberapa tahun kemudian bersamanya membentuk Dewan Komando Revolusi. Sahabatnya yang paling dekat adalah Abdul Salam Jalloud  (M. Riza Sihbudi, 1990: 84).  

Ketika masih berusia belasan tahun, Muammar Khadafi mengajukan tiga buah pertanyaan tentang: (1) Apa yang disebut organisasi piramid dan cara yang terbaik untuk mengatur suatu struktur; (2) Tentang kemungkinan untuk menggalang sebuah revolusi di Libya; dan (3) Tentang kemungkinan untuk mendapat bantuan Mesir dalam revolusi tersebut (Tempo, 14 Oktober 1989). 

Singkatnya Muammar Khadafi telah menanyakan cara menyusun kudeta dan berpikir tentang bagaimana menggalang kekuatan serta bagaimana melancarkan revolusi. Muammar Khadafi sering terlihat membawa radio transistor yang menyiarkan pesan-pesan revolusi kaum nasionalis Arab ke segenap gurun pasir.

Muammar Khadafi juga seorang yang tergolong sangat cerdas. Semasa sekolah beberapa kali sempat lompat kelas. Salah seorang gurunya, Abdul Wafi al-ghadi, melukiskan sang kolonel seorang yang berbakat dan cermat.

Perkembangan jiwanya diawali dengan kisah-kisah legenda kuno yang membentuk karakter suku nenek moyangnya, mulai dari legenda tentang ketangkasan berperang sambil mengendarai kuda sampai cerita mengenai satria yang mati-matian membela sukunya dari ancaman monster berkepala delapan. Selain itu kisah-kisah kepahlawanan para syuhada bangsanya yang telah gugur dalam perjuangan mengusir kaum penjajah. Kakaknya tewas di tangan pemerintah kolonial Italia. 

Ayah dan pamannya sempat meringkuk dalam penjara kaum penjajah. Pahlawan pujaannya adalah Omar Mukhtar, seorang tua yang sehari-hari menjadi guru mengaji dan memimpin pemberontakan jihad bersenjata melawan penjajah Italia di Libya, walau akhirnya berhasil ditawan dan dihukum gantung oleh tentara pendudukan. 

Jadi, wajarlah jika cita-cita kemerdekaan Libya tumbuh bergelora dalam jiwa Muammar Khadafi muda.

Semangat keislaman yang dipengaruhi oleh aliran salaf Sanusiniyah membentuk pula sikap anti Baratnya yang kental. 

Muammar Khadafi telah membicarakan soal revolusi pada usia 14 tahun. Ketika berusia 16-an, Muammar Khadafi telah menggerakkan demontrasi pro Nasser dan anti Israel di Sebha.

Pada suatu hari di tahun 1962, ada kejadian yang cukup menegangkan di sebuah ruang kelas sekolah menengah di Misurata, Tenggara Tripoli. Pagi itu, para murid serentak berdiri tegak ketika inspektur Jonhston, seorang guru bahasa inggris, tiba-tiba mendorong pintu kelas dan masuk dengan langkah angkuh. 

Semua murid berdiri sempurna menghormati kehadirannya, kecuali seorang yang tetap duduk dalam sikap yang membangkang, dialah Muammar Khadafi. 

Suasana kelas semakin tegang ketika keduanya saling menatap dan tak ada yang mau beralih pandang, Jonhston bertanya dalam hati, bagaimana mungkin seorang remaja Libya yang negerinya di bawah Inggris, terbelakang dan kampungan, berani bersikap demikian dihadapan pejabat resmi Inggris. 

Jonhston marah dan menghampiri Muammar Khadafi serta menyuruhnya keluar, namun Muammar Khadafi tidak mau keluar dan membalas kemarahan tersebut dengan bentakan. Guru kelas segera melerai dan memerintahkan Muammar Khadafi untuk keluar. 

Kebencian Muammar khadafi terhadap segala jenis kebudayaan Barat adalah gambaran dari luka bangsanya yang selama puluhan tahun dijajah oleh bangsa lain, salah satunya Bangsa Italia (Ensiklopedi Nasional: 1990: 456).

Kehidupan padang pasir memberikan nilai-nilai Badui padang pasir, misalnya nilai persamaan yang menghendaki agar individu  tidak mementingkan diri sendiri dan lebih mementingkan suku atau keluarga. Hukuman yang berlaku bersifat retributif atau setimpal. 

Nilai lainnya adalah kedermawanan dan sikap bijaksana pada setiap individu, keramah-tamahan juga nilai yang terpenting. Tenda atau rumah tidak saja menerima para musafir tetapi juga terbuka bagi orang yang menbutuhkan perlindungan (Tempo, 14 Oktober 1989).

Muammar Khadafi tumbuh menjadi pribadi yang menjunjung tinggi moralitas dan memiliki semangat perjuangan Islam yang kuat, pandangan yang keras, sederhana dan menjunjung nilai-nilai persamaan dan kehidupan (Daliman, 2000: 152). 

Muammar Khadafi dibesarkan dari lingkungan masyarakat Badui yang menganut sistem kekeluargaan yang erat dan pengalaman sekolah di mana Muammar Khadafi memperoleh pendidikan agama Islam.

Latar belakang pendidikan dan keluarganya menjadi landasan kokoh bagi Muammar Khadafi untuk menjadi seorang yang keras dalam hal moralitas, hidup puritan, dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya. 

Muammar Khadafi dikenal sebagai orang yang anti alkohol dan anti kehidupan malam (Daliman, 2000: 153). 

Sejak kecil Muammar Khadafi sangat  anti kolonial. 

Sikap anti kolonial itu memang telah tumbuh dan mendarah daging dalam pribadi Muammar Khadafi  sejak masih kanak-kanak.

Muammar Khadafi sangat dipengaruhi oleh ide-ide Gammal Abdul Nasser, yang terutama tentang: (1) Nasionalisme Arab, di mana pada bulan Juli 1970 milik masyarakat Italia dan Yahudi di Libya di sita. Pada tahun 1971 terbentuk partai sosialis yaitu Arab Socialist Union (ASU). 

ASU Libya merupakan wahana Nasionalisme Arab dan mengusahakan sosialisasi serta partisipasi politik (Leksikon Islam, 1988: 357); (2) Sosialisme, sosialisme yang dimaksud adalah pemikiran konsep sosialisme yang didasarkan pada pemahaman yang mendalam terhadap Islam bukan sosialisme yang disponsori oleh Uni soviet (Dudung Abdurrahman, 2002: 299); dan Pan Islamisme, Pan Islamisme adalah rasa solidaritas antara seluruh mukmin (Lothrop Stroddard, 1966: 46), maka Muammar Khadafi membuat federasi antara lain dengan Mesir, Sudan, Suriah (1969-1970), dengan Mesir saja (1973), dengan Tunisia saja (1974), dengan  Suriah (1980), dengan Chad (1980-1981) dan Maroko (1985) (M. Riza Sihbudi, 1990: 85). 

Begitu juga tentang Tiga Lingkaran yaitu Arab, Afrika dan Islam.

Muammar Khadafi sangat simpati kepada Nasser, Nasser juga tokoh idola Muammar Khadafi yang selalu dikagumi dan dipuja sejak menjadi kadet pada Akademi Militer (Daliman, 2000: 154).

Muammar Khadafi merupakan tokoh yang kontroversial. Di dalam negeri dia dipuja sebagai “filsuf revolusioner” dan pembela kaum tertindas, pembebas negeri. 

Di dunia luar dikenal sebagai penyokong dana berbagai aksi teroris internasional. 

Muammar Khadafi dianggap mampu mengantarkan rakyat Libya pada kemakmuran dan kesejahteraan, di mana semua orang punya rumah dan cukup sandang pangan serta di mana-mana berdiri klinik-klinik kesehatan, rakyat boleh berobat tanpa dipungut biaya. 

Libya terbebas dari kemlaratan (Tempo, 14 Oktober 1989). Di luar negeri dia dituduh sebagai biang terorisme internasional.  

Amerika Serikat dan negara Barat lainnya tidak bosan-bosan mengutuk dengan kata-kata pedas. Muammar Khadafi dibela mati-matian oleh rakyatnya, karena dalam sejarah hanya Muammar Khadafilah yang mengubah gurun pasir sangat mengerikan di dunia itu menjadi bendungan-bendungan raksasa yang nantinya akan mengubah Libya dari negara panas gersang menjadi negeri subur dan penuh dedaunan hijau (Suara Merdeka, 29 April 1992).

 

Belum ada Komentar untuk "Biografi Muammar Khadafi, Sang Diktator Libya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel