iklan

Faktor-faktor Jepang Mencapai Masa Kejayaan



Seperti yang kita ketahui Jepang mengalami banyak sekali jatuh bangun sebelum mencapai masa kejayaannya hal ini pun sangat berpengaruh dan menjadi pembelajaran bagi Jepang untuk semakin maju dan berkembang. 

Tentunya kemajuan Jepang di Asia Timur ini ditentukan oleh beberapa faktor baik faktor internal maupun eksternal. 

Baik faktor ekonomi, sosial masyarakat maupun politik. Dan berikut pembahasannya tentang bagaiman Jepang bisa maju dan berkembang di kawasan Asia Timur.

Dalam perkembangan Jepang sendiri hal yang terpenting dalam menentukan pertumbuhan dalam kejayaan Jepang adalah jiwa nasionalisme yang dimiliki Jepang. 

Nasionalisme yang dimiliki Jepang pada dasarnya berbeda dengan negara Asia Timur lainnya, Nasional di Jepang sudah ada dan terbentuk sejak terjadinya politik isolasi masa Shogun Tokugawa yang bertujuan untuk mengamankan Jepang dari penjajahan barat terutama Portugis. 

Kemudian dengan perkembangannya ternyata politik Isolasi ini mengalami kegagalan dikarenakan tidak sesuai dengan perkembangan dunia, oleh sebab itu pemerintahan Jepang selanjutnya saat dipegang oleh Kaisar Meiji melakukan sebuah perubahan terhadap pandangan tentang nasionalisme dan membuat semangat nasionalisme semakin kencang dengan menciptakan 3 slogan yaitu : 

- Isshin (kembali ke masa silam), 

- Somo-jui (hormati kaisar dan usir orang-orang biadab), 

- Fokuku Kyohei (militer kuat, negara sejahtera). 

Dan tujuan asli dari pembentukan semangat nasionalisme modern adalah mengusir dan mencegah adanya bangsa barat diwilayah Asia Timur, dan Jepang menganggap dirinya sebagai pemimpin tertinggi di Asia Timur dan orang Barat adalah orang bar-bar (Hartono, 2008). 

Proses pembentukan nasionalisme masa ini dimulai dari golongan samurai (klas atas) yang mau berkorban demi memelihara dan meningkatkan kesejahteraan negara/bangsa. 

Akibat dari moderenasiasi nasionalisme masa Kaisar Meiji ini menjadikan Jepang bisa bersaing dan berjajar dengan kekuatan bangsa barat. 

Lalu pada tahun 1930-1940 semangat Nasionalisme ini semakin tinggi dan agresif, sehingga Jepang mulai memliki cita-cita untuk membentuk Negara Asia Timur Raya yang juga melibatkan dirinya ke Perang Dunia II (Hartono, 2008).

Faktor yang mempengaruhi Jepang bisa mencapai masa kejayaan tidak hanya dengan semangat Nasionalisme masyarakat yang tinggi, tetapi juga masyarakat yang ulet dan mau belajar, serta berbagai faktor pendukung lainnya seperti perekonomian, politik, militer, dan lain sebagainya. Dan faktor yang paling menonjol adalah faktor ekonomi dan militernya yang sangat kuat dan mau berkorban melakukan apa saja demi negaranya.

Dalam bidang ekonomi Jepang dan negara Asia Timur lainnya sangat terkenal dengan kemajuannya, perekonomian  Jepang dan negara Asia Timur yang lainnya seperti China dan Korea sebenarnya hampir sama. 

Kemajuan ekonomi pertama terlihat pada masa Revolusi Meiji dimana yang sebelumnya perekonomian di Jepang mengandalkan sistem agraria/pertanian secara penuh kemudian perlahan-lahan mulai ditambah dengan perindustrian kecil setelah dibukanya Jepang ke mata dunia. 

Pada masa pemerintahan Meiji ini kehidupan Jepang sempat menghadapi guncangan karena kedatangan Komondor Matthew C.Perry dari Amerika Serikat yang bertujuan untuk meminta pengakuan atas keunggulan Amerika Serikat. 

Seiring berjalannya kedatangan Amerika Serikat, Jepang memasuki masa Humilation dimana pada masa ini sebagai tonggak awal penguatan Nasionalisme setelah Amerika Serikat masuk dengan melahirkan 4 motto yaitu : 

- Fukoku kyohei (memperkaya negara dengan memperkuat militer), 

- Wakon yosai (jiwa Jepang untuk menyandingi kemampuan Barat), 

- Datsua nyuo (meninggalkan Asia dan bergabung dengan Eropa), 

- Bummei keika (menjadi beradab). 

Ternyata motto ini hanya digunakan untuk melakukan imitasi/ mencontoh kebudayaan Barat alias mengambil ilmunya, dengan menjadikan budaya Barat sebagai acuan untuk berkembang tenyata Jepang sukses menyeimbangi Amerika Serikat dan bahkan Jepang berkembang sendiri tanpa campur tangan Amerika Serikar lagi. 

Dengan proses ini Jepang melakukan proses perubahan ekonomi, budaya, dan pendidikan secara besar-besaran yang berfokus pada pembangunan dan moderenisasi (Citra Hennida, Reza Akbar Felayati, Sri Harini Wijayanti, Alfonita Rizky Perdana, 2016).

Dan selanjutnya masa pemerintahan Kaisar Tashio, perindustrian semakin dikembangkan dan muncul kota-kota industri baru. 

Keberhasilan ini juga dibantu oleh keuletan dan rasa ingin belajar kaum masyarakatnya sendiri sehingga kehidupan perekonomian juga semakin berkembang. 

Apalagi pada saat itu banyak generasi muda yang mulai muncul dan berpikiran maju sebab pada saat itu juga pendidikan juga berkembang dan Jepang juga mulai membuka diri terhadap pengaruh dunia luar untuk belajar hal yang baru, yang bisa diambil dan diadptasi. 

Selain itu pada masa pendudukan Amerika, Amerika melakukan pemberishan dan perombakan besar-besaran terhadap sistem perekonomian di Jepang dengan pembaharuan UU Agraria sehingga para petani memiliki lahan dan bisa mengembangkan hasil pertaniannya dan pertanian inilah yang menyokong perekonomian Jepang dengan baik.

Tentang sistem perekonomian yang dimiliki Jepang dan seluruh negara Asia Timur memiliki kesamaan yaitu sistem perekonomian neo-klasik (Competitive Advantage) yang pada dasarnya adalah pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek dan se-efesien mungkin dengan mengoptimalkan alokasi sumber daya baik sumber daya manusia maupun sumber daya alamnya. 

Jadi Jepang dan seluruh negara Asia Timur lainnya melakukan kegiatan eksport sumber daya alam maupun sumber daya manusia (tenaga kerja), hal ini terbukti sangat baik dan bahkan sempat mengalahkan kegiatan ekport Amerika dan menyebabkan nilai dollar Amerika ini sempat turun pada tahun 1973 (Darmaputera, 1997).

Jepang juga memiliki suatu bidang usaha industri (selain bidang pertanian) yang maju dan bisa meningkatkan perekonomian Jepang secara dinamis seperti: 

- MITI (Ministry of International Trade and Industry) 

- JETRO (Japan External Trade Organization) 

Mereka adalah lembaga perekonomian yang bertugas untuk melakukan dan mengawasi hasil eksport, serta selama ini  pernah melakukan spionasi terhadap perusahaan-perusahaan Amerika yang menyebabkan kebocoran informasi. 

Di Jepang pun pada masa modern ini juga memiliki Developmental State atau pemerintahan negara yang aktif dalam perencanaan pembangunan ekonomi dan kerjasama dengan banyak perusahaan dunia usaha seluruh negara dengan syarat memiliki birokasi yang disiplin dan bersih serta memiliki lembaga yang berperan aktif dalam perekonomian. 

Disini juga Jepang tidak ingin bahwa kegiatan perekonomian ini dikuasai oleh 1 pihak saja (pihak nasional/ pihak swasta), tetapi pemerintah Jepang menginginkan terciptanya program Govemed Interpendence yang berisi kerjasama antara perusahaan pemerintah dengan perusahaan swasta dengan masih diawasi oleh pemerintah sehingga pihak swasta nantinya tidak merasa dominan/memiliki/menguasai kegiatan perekonomian secara penuh. 

Dan ternyata program ini berhasil dan pihak swasta juga banyak yang menanmkan investasi modal ke Jepang, sehingga perekonomian Jepang semakin meningkat. 

Dan melalui Competitive Advantage ini Jepang dan negara Asia Timur lainnya dapat semakin maju dan berkembang, selain itu Competitive Advantage ini berhasil menjadi pembelajaran bagi banyak negara (Darmaputera, 1997).

Lalu dibidang pertahanan, militer, dan kemanan sendiri kemajuan Jepang diawali dengan jiwa nasionalisme yang kuat sejak lama dari jaman kekaisaran bahkan hingga jaman modern, dengan munculnya sistem samurai (seorang yang rela berkorban demi keamanan dan kesejahteraan negaranya) dan semangat hakko ichiu (semangat untuk mempersatukan 8 penjuru dibawah kekuasaan Jepang dan tidak takut mati) menjadikan Jepang sebagai negara dengan jiwa nasionalisme tertinggi dan sejati serta dengan pernah adanya sistem isolasi jugalah yang menjadikan nasionalisme ini sudah ada bahkan mengakar di kehidupan masyarakat (Syahrin, 2018). 

Begitu pula dengan dunia militer di Jepang kemajuannya selain ditentukan dengan berkembangnya ekonomi dan industrialisasi, faktor militer dan pertahanan serta keamanan ini juga sebagai faktor penentu yang cukup besar perannya.

Kemajuan politik yang dikombinasikan dengan kekuatan militer yang luar biasa membawa Jepang kepadda cita-cita pembentukan Asia Timur Raya dan Perang Dunia II. 

Bahkan pada masa pendudukan Amerika Serikat setelah kekalahannya dalam Perang Dunia II walaupun keadaan Jepang terkesan terseok-seok oleh kehancuran kota Hirosima dan Nagasaki tetapi semangat cinta tanah air atau nasionalisme Jepang sendiri tidak pernah pudar. Malahan semangat nasionalisme ini semakin kuat dan memberi dampak yang luar biasa dalam kemajuan militer. 

Amerika memandang Jepang bukanlah suatu negara yang main-main di Asia Timur bahkan saat kepimpinan McArthur (pemimpin SCAP) ini pernah meminta Jepang yang diwakili oleh Perdana Menteri Yoshida Shigeru untuk menjalin kerjasama/aliansi dibidang kemiliteran dengan Amerika Serikat, hal ini berarti menandakan bahwa kekuatan militer dari Jepang ini sendiri merupakan kekuatan yang kuat dan bisa diandalkan. 

Serta dalam alinasi ini Jepang merasa mendapat banyak pembelajaran dan keuntungan, serta bagi Amerika pun Jepang membawa dampak yang postif karena Jepang merupakan negara yang kuat dengan nasionalisme sehingga apa yang dipercayai susah utuk digoyahkan, Jepang mau bertumbuh melalui kerjasama, dan Jepang mau aktif dalam memperbaiki keamanan internasional (Ida Bagus Gandhi Maheswara, Suksma Susanti, Idin Fasisaka, 2020).

Oleh sebab itu, pada Juli 1950 hasil kerjasama antara Jepang dan Amerika Serikat ini menghasilkan pendirian National Police Reciver yang bertugas untuk menjaga estabilan dan keamanan di Jepang mengingat Amerika turut dalam Perang Dingin, Jepang akhirnya menggunakan kekuatan ini untuk menjaga Jepang.

Setelah selesainya kedaulatan Amerika Serikat pada 1952 masih dibawah kepeimpinan Perdana Menteri Yoshida Shigeru ini ingin membawa Jepang dalam acara pemfokusan diri pada faktor perbaikan dan pembangunan ekonomi serta masih menjalin hubungan aliansi dengan Amerika Serikat dan menyerahkan masalah keamanannya kepada Amerika Serikat, kemudian pada 1957 setelah dirasa pembangunan ekonomi membaik Jepang meminta agar masalah kemanan dan militer diurus secara mandiri degan sebutan Basic Policy for National Defense (BPND) dan pada 1958 dibentulah program Japan Defense Build Up Program yang terdiri atas 4 kegiatan yang meningkatkan militer (Putro, 2012): 

- Japan Defense Build Up Program yang pertama 1958 ini melakukan penarikan pasukan Amerika Serikat dari wilayah Jepang

- Program yang kedua tahun 1962 program yang dijalankan adalah peningkatan kekuatan maritim dan udara serta menambah pengadaan senjata

- Program ketiga dilaksanakan pada 1967 yang berisi peningkatan pertahanan laut secara kualitatif

- Program keempat dilaksanakan pada 1972 adalah mengikuti kelanjutan dari pembangunan pertahanan sebelumnya dan memperkuat lagi kekuatan laut dan udara

Karena masih menjalin aliansi yang cukup baik dan militer yang cukup maju membuat Jepang dijadikan benteng pertahanan bagi Amerika Serikat untuk membantu menangkal pengaruh komunis di Asia Timur dan Pasifik. 

Keberhasilan Jepang dalam bidang militer ini selain ditentukan oleh sumber daya manusianya juga ditentukan letak Jepang yang sangat strategis secara geografis karena Jepang terletak sebaga pintu masuk satu-satunya ke arah Pasifik dari Laut Jepang dengan melalui Selat Tsugaru, Selat Tsuhima, dan Selat Soya. 

Setelah Perang Dingin berakhir pun Jepang masih eksis di bidang peningkatan pertahanan dan keamanan serta Jepang mulai mendukung kestabilan sistem kemanan internasional dan mulai bergabung dengan PBB pada 18 September 1956 (Putro, 2012).

Jadi faktor yang menyebabkan Jepang dapat meraih kejayaannya hingga sekarang adalah rasa nasionalisme dan mau berubah serta belajar dari negara lain. Jepang tidak meniru semua keberhasilan yang ada dari pengaruh bangsa Barat, tetapi dia menyempurnakan dengan caranya sendiri. Oleh karena itu, Jepang bisa maju bahkan mengungguli kejayaan bangsa Barat dan karena kejayaannya ini Jepang hingga sekarang bisa menjadi negara yang maju baik dari segi pemerintahan, ekonomi, dan militer.

Dalam bidang ekonomi kejayaan Jepang disebabkan rasa mau belajar dan mau mencoba hal yang baru, serta mau memanfaatkan sumber daya (baik sumber daya alam maupun manusia) untuk bersaing dalam dunia eksport dan untuk mengembangkan industrialisasi yang direncanakan. 

Serta dalam bidang militer, pertahanan, dan keamanan, Jepang mau menjalin aliansi dengan negara yang lebih besar dan berpengalaman sehingga kekuatan Jepang dan strateginya bisa bertambah serta lebih terkenal di kancah dunia. 

Hal ini juga tak luput dari masa pemerintahan Amerika Serikat yang ternyat membawa dampak positif dan membuka pemikiran Jepang yang semula hanya mengikut perintah/ aturan dari Kaisar/Shogun, akhirnya berubah untuk berfikir secaraa mandiri tetapi juga tidak melupakan kehidupan asli. Dan hal ini pula didukung oleh sifat masyarakat yang ulet dan majunya pendidikan juga.


Belum ada Komentar untuk "Faktor-faktor Jepang Mencapai Masa Kejayaan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel