iklan

Faktor-faktor Pendorong Deng Xiaoping Melakukan Modernisasi Cina

 


Modernisasi ekonomi yang dicanangkan Deng Xiaoping berupaya untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat Cina sebagai akibat dari kemunduran ekonomi dikarenakan mengutamakan pertimbangan politik daripada ekonomi, tanpa memperhatikan bagaimana perkembangan sistem perekonomian pada bangsa/negara lain. 

A. Faktor kegagalan strategi pembangunan Mao Zedong

1) Tahap Gerakan Lompatan Jauh Kedepan

Program ini dicetuskan dibawah kepemimpinan Mao Zedong dengan prinsipnya adalah meningkatkan produksi baja, industri ringan dan konstruksi serta pengerahan tenaga rakyat secara besar-besaran, sehingga kaum pria dipindah bekerja kesektor industri dan kaum wanita diperintah bekerja di sawah. Pengelolaan pertanian yang hanya diserahkan pada kaum perempuan tidak menghasilkan produksi yang optimal. Ditelisik dari segi tenaga maupun kemampuan laki- laki yang lebih baik dari perempuan.  

Menurut W.D Sukisman (1995: 73) penyebab kegagalan gerakan ini antara lain :

1. Rakyat yang dikerahkan masih terlalu awam terhadap pekerjaan barunya, sehingga kualitas dari produksi juga rendah,

2. Penggunaan bahan bakar untuk memacu industri sangat besar jumlahnya, sehigga mengakibatkan kekurangan bagi bidang-bidang lainya.

3. Pengangkutan dan peredaran barang hasil produksi kurang terencana, sehingga terjadi kemacetan distribusi barang.

4. Rakyat yang dikerahkan secara total dalarn kerja kasar, juga terdiri dari guru dan sarjana yang mengakibatkan terbengkalainya bidang pendidikan. 

Penerapan gerakan lompatan jauh ke depan yang dilaksanakan tergesa-gesa tanpa perencanaan serta ambisius dan brutal secepatnya merekonstruksi masyarakat ke dalam Komune Rakyat. Dampak dari gerakan lompatan jauh kedepan Mao Zedong yakni :

1. Dalam surat kabar kompas 10 September 1984, dikatakan bahwa selama masa kelaparan 4 tahun setelah ditetapkan gerakan pada tahun 1958 sudah tercatat lebih dari 10 juta penduduk RRC tewas. 

2. Menurut G.C. Chow dalam buku The Chinese Economy, antara 1958 dan 1962 hasil industri ringan RRC menurun 21%, sedangkan hasil industri berat turun 23% (Berzenski, 1990) 

3. Kemerosotan produksi industri ringan disebabkan terjadinya ketegangan antara RRC dengan Uni-Soviet pada akhir dasawarsa 1950-an. Hal itu dikarenakan ketika Uni-Soviet mengadakan invasi ke Afghanistan dan berdampak pada kecemasan jika hal itu juga terjadi pada RRC. 

Pemerintah RRC pun memutuskan hubungan dengan Uni-Soviet dan pemerintah Uni-Soviet melarang pengiriman barang ke RRC serta menarik kembali tenaga ahli yang dikirim ke RRC. Hal ini menjadi penghambat karena keahlian teknisi dari Uni-Soviet belum bisa tergantikan teknisi Cina sendiri. 

 Gagasan yang dibuat Deng Xiaoping menimbulkan bencana kelaparan dan berbagai stagnasi. (Silfiana, 2018, p. hal: 1066) Stagnasi yang yang ditimbulkan gerakan lompatan jauh Mao Zedong berdampak pada menurunnya kesejahteraan rakyat. Kebutuhan pokok pangan yang tidak terpenuhi dengan baik menyebabkan kemelud dan kekacauan sosial di lingkungan masyarakat. Bahkan mengganggu stabilitas politik dan beberapasengketa dengan negara lain seperti Uni Soviet.


2) Tahap Revolusi Kebudayaan

Mao Zedong pun turun jabatan pada 1959 dan digantikan dengan Liu Shaoqi menjadi kepala negara. Pada masa pemerintahan Liu untuk memulihkan kembali krisis pada perekonomian negara, maka ditegaskan bahwa sektor pertanian perlu dijadikan basis guna menggerakkan sektor industri di masa yang akan datang. 

RRC pun mendapatkan pengaruh yang sangat besar dari paham liberalis Uni-Soviet, dimana paham ini memperkenalkan pembaharuan sistem ekonomi sosialis yang menganjurkan memberi kebebasan perusahaan-perusahaan negara untuk mencari keuntungan sendiri dan mengembangkan sistem intensif material dalam merangsang efisiensi. 

Revolusi Kebudayaan (1966-1969) merupakan konsep pembangunan yang mendasarkan diri pada mobilisasi politik yang didasarkan pada materialisme. Intinya ialah mempolitisir semua kegiatan masyarakat sehingga tidak ada satu ruangan bagi individu yang kebal terhadap pencegahan dan campur tangan penguasa. Selain itu, Revolusi Kebudayaan juga memiliki tujuan untuk memperbarui manajemen industri yang mana setara dengan pelaksanaan ajaran Liang-san, Yi Gai, Son Jie He. 

Meskipun rakyat terlepas dari kebijakan lompatan jauh ke depan, hal ini tidak membuat rakyat terlepas dari kesengsaraan. Selama revolusi kebudayaan, penindasan-penindasan kepada mereka yang dianggap kapitalisme dilakukan oleh para pengawal merah dan menyebabkan masyarakat Cina mengalani kesengsaraan dan keterbalakangan. Dalam edaran 6 Mei 1966 dan ‘Keputusan 16 butir Agustus 1966’ Revolusi Kebudayaan dirinci secara jelas.

a. Revolusi sosialis yang telah mencapai tahapan baru itu telah menegakkan orde baru yang mengembangkan gagasan dan kebudayaan baru. 

b. Keberanian untuk melangkah maju telah berhasil menumbangkan mereka yang menganut jalan kapitalis.

c. Keberanian harus dilimpahkan kepada rakyat, sehingga dapat membongkar pengkhianatan terhadap pemikiran Mao.

d. Rakyat dipersilahkan mendidik diri dalam mengobarkan Revolusi Kebudayaan.

e. Diserukan agar ditegaskan siapa kawan dan siapa lawan, Sasaran pokok dari Revolusi Kebudayaan adalah menumbangkan unsur - unsur dalam partai komunis yang menganut jalan kapitalis. Dalam memperjelas siapa lawan dan siapa kawan dilakukan beberapa Metode yaitu:Mengemukakan fakta-fakta, Mengadakan ajakan untuk memperbincangkan fakta-fakta tersebut, Menghindari tindakan kekerasan.

f. Mencegah kekeliruan terhadap rakyat revolusioner.

g. Mengadakan perbedaan antara : yang baik, yang sedang, dan yang berbuat salah tapi tidak antipartai dan tidak antisosialisme.

h. Organisasi yang telah ada dianggap sebagai alat kekuasaan dari Revolusi Kebudayaan.

i. Sistem dan prinsip-prinsip serta cara mengajar yang lama harus diganti dengan pengajaran yang mengabdi politik protelar dalam kaitannya kerja produktif.

j. Kritik dengan menyebut nama baru dapat diperbincangkan oleh komite partai setempat dan setelah mendapat persetujuan dari atasan.

k. Kritik terhadap para sarjana dan teknisi yang tidak antipartai atau antisosialisme, dan tidak berhubungan gelap dengan negar.

l. Asing harus dijalankan dengan kritik atas dasar persatuan.

m. Sasaran pokoknya adalah pendidikan dan pemerintah di kota-kota besar dan sedang.

n. Tujuan dari Revolusi Kebudayaan adalah merevolusionerkan ideologi rakyat dan menambah produksi serta mutunya.

o. Di lingkungan angkatan bersenjata, dan edukasi Revolusi Kebudayaan harus sesuai dengan instruksi dari komisi.

p. Pikiran Mao jadi pedoman semua tindakan dalam merumuskan kebijakan. (Leo:2012)

B. Perkembangan Sistem Ekonomi Dunia

Perkembangan perekonomian dunia yang melintasi dimensi wilayah membawa konsekuensi terhadap banyak negara untuk memberlakukan sebuah sistem ekonomi baru. 

Dijelaskan Profesor Walt Buchingham dalam Polrtak Partogi Nainggolan (1995) bahwa gerak ekonomi dunia cenderung membentuk suatu sistem campuran antara sistem ekonomi kapitalis dengan sistem ekonomi sosialis. 

Sementara itu, W.W. Rostow dalam Poltak Partogi Nainggolan (1995) mengatakan bahwa perkemhangan ekonomi di masyarakat telah menghilangkan ciri-ciri perbedaan yang menjadi pertentangan antagonistik antara kapitalis dengan sosialis.

Keberhasilan banyak negara dalam meningkatkan kemakmuran masyarakat dengan menerapkan sistem ekonomi tersebut menyadarkan masyarakat RRC dimasa kepemimpinan Mao Zedong yang ideologinya dogmatis, yang selanjutnya diganti dengan sistem ekonomi kapitalis dipadukan dengan sistem ekonomi sosialis. Hal ini terlihat dari pernyataan Deng Xiaoping :

1) Peranan Bantuan Asing

Menurut Deng Xiaoping, Revolusi Kebudayaan disebabkan kesombongan RRC yang tidak mau mengadakan hubungan dengan negara luar tanpa menyadari pentingnya meniru kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki negara lain. 

Keyakinan Mao Zedong jika seorang komunis tidak dapat menjadi seorang internasionalis dibantah Deng Xiaoping dengan mengatakan bahwa seorang komunis secara bersamaan dapat menjadi internasionalis. Keterbelakangan harus diakui sebelum hal itu dirubah. Seseorang harus belajar dari mereka yang lebih maju, sebelum dapat menyamai maupun melampauinya. 

2) Peranan Semangat Kompetisi

Sikap egaliter yang diwujudkan dalam bentuk komune rakyat selama kepemimpinan Mao dianggap Deng Xiaoping sebagai suatu hal mustahil dalam mewujudkan kemajuan RRC. Jadi, konsep ekonomi harus berdasarkan distribusi menurut kebutuhan telah diubah dengan konsep ekonomi menurut kualitas pekerjaan. Dalam istilah lain dikatakan dengan banyak bekerja, setiap orang akan menerima lebih banyak bayaran. 

Bagi Deng Xiaoping, menjadikan beberapa orang menjadi kaya kemudian membawa orang banyak kepada kemakmuran bersama (universal) secara ideologis dibenarkan. Deng Xiaoping menganggap perbedaaan penghasilan merupakan hal yang wajar dalam masyarakat bahkan kompetisi tidak lagi dipandang sebagai kejahatan kapitalis, tetapi merupakan kekuatan potensial untuk mengembangkan perekonomian negara (Kompas, 22 Oktober 1984).

3) Peranan Pasar dan Uang

Pembangunan RRC selama pemerintahan Mao Zedong yang diwarnai dengan penerapan ajaran Maoisme yang didasarkan pada pengkajian ajaran Marxisme menekankan bahwa dalam masyarakat sosialisme tidak lagi diperlukan pasar dan uang. Strategi yang ditempuh selama pemerintahan Mao haruslah ditinggalkan agar RRC mendapatkan hasil maksimal dari penbangunan yang dilaksanakan. Pandangan ini sesuai dengan pemikiran Deng Xiaoping mengenai strategi pembangunan, ia menghendaki adanya perpaduan antara perencanaan terpusat dengan kekuatan pasar.

C. Faktor Perubahan Kepemimpinan

Kebijakan Mao Zedong dalam pembangunan menimbulkan perpecahan dalam persatuan dan kesatuan dalam tubuh PKC. Dalam tubuh PKC terjadi pengelompokan yang didasarkan bagaimana kebijaksanaan pembangunan yang akan ditempuh, yaitu: a) Kelompok Radikal Revolusioner atau yang dikenal sebagai penganut ajaran Maoisme fanatik. b) Kelompok Pragmatis Realistis pimpinan Zhou En Lai.

2.3 Strategi  Deng Xiaoping dalam Mengelola Jalannya Modernisasi RRC

Tahun 1976 Deng Xiaoping kembali andil dalam kepemimpinan PKC. Setelah bertahun- tahun mengalami kesengsaraan karena pensisikan ulang dan pengasingan ke desa tepencil dampak dari Revolusi Kebudayaan Mao Zedong. Xiaoping mempersiapkan rancangan kekuasaan yang akan diaplikasikan dalam melaksanakan moderniasi tahun 1976- 1980. Dalam menjalankan kebijakannya Xiaoping menetapkan landasan politik yang kuat untuk diaplikasikan dengan tujuan memperoleh kejayaan ekonomi.

Dalam menjalankan misi modernisasi ekonomi Deng Xiaoping menggunakan dua teori dalam satu negara yaitu Kapitalisme dan komunisme. Kapitalisme digunakan dalam menjalankan roda perekonomian, sedangkan komunisme diaplikasikan dalam memegang kekuasaan dan mencali legitimasi. Komunisme tidak bisa dipisahkan dari China terutama dalam tatanan politik, dan sosial karena sudah mengakar kuat di China. Terdapat empat bidang yang menjadi dasar Deng Xiaoping dalam melancarkan misi Moedernisasi ekonomi China yaitu pertanian, industri, IPTEK, pertahanan negara. 

Dalam melancarkan empat misi modernisasi tersebut Deng Xiaoping menjalankan dua poin teori yaitu: 1) Menjunjung tinggi nilai dasar yang mengakar kuat pada kehidupan China yaitu: a) Berprinsip sosialis, b) Menerapkan model kepemimpinan dictator proletariat, c) Berpegang pada ideology komunis bahkan puncak pimpinannya, d) Menerapkan prinsip Leninisme- Marxisme dan penerapan pemikiran Mmao Zedong. 2) Menerapkan politik pintu terbuka sehingga dapat mengadakan hubungan Internasional. Dengan menerapkan politik pintu terbuka China dapat belajar dari kemajuan negara lain dan mengeja ketertinggalan. (Silfiana, 2018, p. 1661667)

Kebijakan dengan struktur tatanan baru pemerintah daerah, pimpinan industri berat ke pertanian, industri ringan diberikan otonomi lebih besar dalam mengelola keputusan untuk kemajuan internal masing- masing. Politik ekonomi pintu terbuka (Open door policy= Kaifang) untuk memperlancar modernisasi ekonomi negara. Politik pintu terbuka membuka jalan dalam melakukan kerjasama dengan pedagang- pedagang internasional serta memperluas jangkauan pasar. Selain itu politik ini juga mengundang investor asing untuk menanamkan modalnya di China yang berdampak pada ketersediaan lapangan pekerjaan untuk kesejahteraan rakyat. 

Gagasan rancangan modernisasi ekonomi 1976-1985 dituangkan secara resmi pada Februari 1978. Dalam buku Sejaraj Asia Timur II yang karya Leo Agung disebutkan ‘’kebijakan ini berisikan bahwa pengembangan terfokuskan pada pertanian dari pada industri berat. Namun Industri berat tetap dikembangkan terutama yang mendukung sektor pertanian’’. Deklarasi rancangan modernisasi dalam sidang Pleno III komite sentral ke 11 menjadi tanda berakhirnya Revolusi kebudayaan Mao Zedong. 

Kebijakan modernisasi Ekonomi mulai menghasilkan banyak kemajuan diantaranya dengan ditingkatkannya insentif untuk melaksanakan produksi. Sehingga berdampak pada naiknya pendapatan pekerja dan petani dengan begitu kesejahteraan meningkat. Pemerintah juga menetapkan kebijakan- kebijakan baru untuk meningkatkan produktivitas dan mendukung kelancaran dalam modernisasi ekonomi diantaranya yaitu: 

a) Melakukan seleksi pada pejabat  dalam pemerintahan sehingga hanya merekrut pejabat yang dapat mengembangkan modernisasi ekonomi secara efektif.

b) Penciutan dan memperbarui militer. Mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan militer, yang selama ini memakan anggaran yang besar. Anggaran lebih difokuskan dalam pengembangan ekonomi modern. 

c) Menghentikan  kecaman yang berdasar ideology karena hal tersebut hanya menghambat jalannya ekonomi dan menimbulkan perpecahan. Kompetisi terfokus pada politik dalam mengelola kemajuan, pengurangan peran serta partai politik dalam urusan ekonomi, mengadakan kerjasama pertukaran dengan negara barat sehingga memperoleh teknologi, kredit, imvestasi, dan memperluas akses pasar.

Deng Xiaoping menekankan yang berperan besar dalam pengembangan modernisasi ekonomi adalah  IPTEK. Modernisasi ekonomi tidak bisa dilepaskan dari politik dan hukum. Deng Xiaoping membuat beberapa kebijakan untuk melindungi ideologi komunis akibat dampak dari dilaksanakannya modernisasi ekonomi. Dalam buku Sejarah Asia Timur II Leo Agung menyebutkan beberapa kebijakan tersebut yaitu:

a) Menganut jalan sosialis dengan konsekuaensi partai komunis harus mempunyai kepemimpinan yang menjadi penggerak segenap pekerja.

b) Menguasai keteramprofesional. Kader PKC tidak hanya dituntut untuk ‘’merah’’ melainkan harus menguasai IPTEK.

c) Bidang pertanian juga menekankan prinsip ‘’ merah’’ dan keahlian.

Deng Xiaoping melakukan pembenahan disektor partai dan pemerintahan dengan menerapkan ‘’ one country,two sistem’’ yaitu menjalankan sistem sosialis dan kapitalis. Kapitalis diimplementasikan di wilayah pesisir seperti kepulauan Hong Kong dan samudra pasifik sampai wilayah utara. Sedangkan prinsip Sosialis diterapkan di pedalaman dengan mayoritas penduduk berprofesi sebagai petani. 

Kebijakan Deng Xiaoping dirinci lebih lanjut pada Desember 1979, yaitu, membahas tentang ketimpangan ekonomi. Kongres Rakyat Nasional III 1975 yang tertuang dalam pembangunan ekonomi terpadu. 

Pengembangan modernitas ekonomi terfokus pada sektor pertanian karena pertanian menjadi titik tumpu perekonomian rakyat China, yang mengalami kerusakan parah pada masa periode terakhit. Menyikapi hal tersebut Deng Xiaoping merubah komune pertanian dengan sistem tanggung jawab. 

Sidang ke-3 PKC XII dilaksanakan 20 Oktober 1984 menghapus monopoli perdagangan komoditi pertanian oleh pemerintah diganti dengan sistem mekanisme pasar. Dalam sidang ini membahas perombakan peran pemerintah dan fungsi pemerintah. 

Pemerintah diharuskan terfokus pada urusan pemerintahan tidak ikut campur dalam kegiatan bisnis. Pemerintah berfokus pada pengembangan usaha- usaha kecil dan menengah yang mayoritas bergerak pada industri-industri produksi kebutuhan rumah tangga. 

Deng Xioping juga melakukan modernisasi pada ranah IPTEK. Kebijakan untuk mengembangkan IPTEK dengan menambah kurikulum dengan berbagai disiplin keilmuan yang mempelajari doktrin- doktrin Maoisme.

Diberlakukannya Politik pintu terbuka membuat China berurusan dengan cakupan yang lebih luas yaitu internasional. China menyadari perlunya memperkuat militer untuk menjaga stabilitas keamanan negara.  

Deng Xiaoping mengurangi kuantitas militer karena pertimbangan pertama, militer yang besar membutuhkan biaya yang besar, alokasi biasa difokuskan untuk modernisasi ekonomi. Kedua, Kuantitas militer China yang besar mengakibatkan kecurigaan negara- negara tetangga. Modernisasi militer mencakup peralatan tempur baik darat, udara , maupun laut. 

Dalam pelaksanaannya modernisasi militer melakui dua jalur yaitu: 1) melakukan perombakan moliter dengan mengadopsi teknologi Barat. 2) Meningkatkan Penelitian dan pengembangan bidang militer. Usaha- usaha tersebut berdampak pada meningkatnya kualitas militer China yang sangat segnifikan.

Kebijakan modernisasi dengan mengembangkan bidang pertanian, industri, IPTEK, dan Militer. (Pratama, 2020, p. Hal:5) RRC juga menganut politik pintu terbukan dengan pengalokasian empat wilawah yaitu Shuzen, Shihai, Shantou, Xiamen sebagai kawasan khusus SEZ (Special Economiic Zones). P embukaan 14 kawasan khusus disepanjang pantai Shanghai, Dalian, Qinghuangdao, Tianjing, Yangtai, Qindao, Lianyungang,Naton, Wenzhou, Funghau, Shangjiang, Deilhai, dan pulau Hainan ditetapkan  sebagai kota- kota bebas sederajat dengan daerahekonomi Khusus SEZ. 

Diberlakukan Kebijakan politik pintu terbuka untuk mencapai beberapa tujuan dalam modernisasi ekonomi yaitu: 

a) Menarik investor asing sehingga dapat meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan devisa negara. 

b) Menarik masuknya teknologi barat sehingga berdampak pada progres perkembangan teknologi RRC.

c) Meningkatkan pengembangan ilmu pengetahuan keterampilan tenaga kerja RRC.

d) Menarik masuknya metode managemen asing yang lebih efektif dan efisien.

e) Mendorong perkembangan entherpreneunship kawasan SEZ.6) Meningkatkan citra RRC di kancah Internasional.


Belum ada Komentar untuk "Faktor-faktor Pendorong Deng Xiaoping Melakukan Modernisasi Cina"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel