Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tindak Pidana: Pengertian, Unsur-unsur, dan Faktor Pemicu



Pengertian Tindak Pidana

Istilah tindak pidana ialah terjemahan umum untuk istilah pada Bahasa Belanda strafbaar feit. "Dalam Bahasa Indonesia, istilah strcrfbaar feit diterjemahkan dalam beragam istilah misalkan, tindak pidana, delik, kejadian pidana, tindakan yang bisa dijatuhi hukuman, tindakan pidana, dan lain-lain" (Erdianto Effendi, 2011 : 96-97). Strafbaar feit sebagai istilah sah dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang berjalan di Indonesia. 

Tindak pidana memiliki arti satu tindakan yang pelakunya bisa dikenai hiukuman pidana, dan pelaku ini bisa disebutkan sebagai subyek tindak pidana" (Wirjono Prodjodikoro, 2002 : 55).

Istilah strafbaar feit dialih bahasa oleh beberapa ahli hukum pidana di Indonesia dengan istilah yang berbeda. Pendapat beberapa pakar berkenaan tindak pidana ialah

Moeljatno mengatakan jika "tindak pidana ialah tindakan yang dilanggar dan diintimidasi dengan pidana, pada siapa saja menyalahi larangan itu. Tindakan itu harus juga dirasa oleh warga sebagai satu kendala tata pertemanan yang dicita-citakan oleh masyarakat" (Erdianto Effendi, 2011)

Menurut Pompe "strafbaar feit" secara teoritis bisa merangkum sebagai "satu pelanggaran etika (masalah pada teratur hukum) yang dengan menyengaja atau dengan tidak menyengaja sudah dilaksanakan dengan seorang aktor, di mana penjatuhan hukuman pada aktor itu ialah perlu untuk terawatnya teratur hukum dan terjaganya kebutuhan hokum" (P.A.F. Lamintang, 1997 : 181).

"Tindak pidana bisa disebutkan berbentuk istilah sah dalam perundang-undangan negara kita. Pada hampir semua perundang-undangan kita memakai istilah tindak pidana untuk merangkum satu perlakuan yang bisa diintimidasi dengan satu pidana tertentu" (Adami Chazawi, 2002 : 67).

"Makna delict tersebut dalam kamus hukum disimpulkan sebagai delik tindak pidana, tindakan yang diintimidasi dengan hukuman" (R. Subekti Tjitrosoedibio, 2005 : 35).

Vos merangkum jika "satu strafbaar feit itu ialah tingkah laku manusia yang diintimidasi pidana oleh ketentuan perundang-undangan" (Martiman Prodjoinidjojo, 1995 : 16).

Dari pendapat-pendapat beberapa pakar di atas, bisa diambil kesimpulan jika tindak pidana ialah tingkah laku yang diintimidasi dengan pidana, yang memiliki sifat menantang hukum, yang terkait dengan kekeliruan dan dilaksanakan oleh orang yang sanggup bertanggungjawab.

Unsur-unsur Tindak Pidana

"Tiap tindak pidana yang ada di dalam KUHP secara umum bisa diuraikan di dalam beberapa unsur yang pada intinya bisa dipisah jadi 2 (dua) jenis elemen, yaitu elemen subjektif dan elemen objektif' (P.A.F. Lamintang, 1997 : 193).

Elemen subjektif ialah beberapa unsur yang menempel dalam diri st aktor atau terkait dengan sang aktor, dan terhitung kedalamnya ialah satu yan k terdapat di dalam hatinya. Unsur- elemen subjektif dari satu tindak pidana ialah seperti berikut :

a) Tersengajaan atau ketidaksengajaan (dolms atau culpa)',

b) Tujuan atau voornemen di suatu eksperimen atau poging,

c) sama seperti yang diartikan di dalam pasal 53 ayat (1) KUHP;

d) Beberapa macam tujuan atau oogmerk, sama seperti yang ada di dalam kejahatan perampokan, penipuan, pemerasan, peinalsuan, dan lain-lain;

e) Berencana lebih dulu atau voorbedachte raad, sama seperti yang ada di dalam kejahatan pembunuhan menurut pasal 340 KUHP;

f) Hati takut atau vress, sama seperti yang ada di dalam rumusan tindak pidana menurut pasal 308 KUHP.

Elemen objektif ialah beberapa unsur yang ada hubungan dengan kondisi-keadaan, yakni dalam kondisi-keadaan mana satu perlakuan dari aktor itu harus dilaksanakan. Beberapa unsur objektif dari satu tindak pidana ialah seperti berikut

a) Karakter menyalahi hukum atau wederrechtelijkheid,‘

b) Kualitas aktor, misalkan "kondisi sebagai seorang karyawan negeri" dalam kejahatan kedudukan menurut pasal 415 KUHP;

c) Kausalitas, yaitu jalinan di antara suatu hal perlakuan sebagai pemicu dengan suatu hal realita sebagai karena.

Menurut Moeljatno (dalam Erdianto Effendi, 2011 : 98), beberapa unsur tindak pidana ialah :

Tindakan itu harus sebagai tindakan manusia;

Tindakan itu harus dilarang dan diintimidasi dengan hukuman oleh Undang-undang

a) Perbuatan itu bertentangan dengan hukum (melawan hukum);

b) Harus dilaksanakan oleh seorang yang bisa dipertanggung- jawabkan;

c) Perbuatan itu harus bisa dipersalahkan ke st pembikin.


Menurut EY. Kanter dan SR. Sianturi (dalam Erdianto Effendi, 2011 : 99) mengatakan, beberapa unsur tindak pidana ialah :

a) Subyek;

b) Kesalahan;

c) Bersifat Menantang Hukum (dan perlakuan);

d) Suatu perlakuan yang dilarang atau diwajibkan oleh Undang- Undang / Perundangan dan pada pelanggarannya diintimidasi dengan pidana;

e) Waktu, tempat, dan kondisi (elemen objektif yang lain).


3) Pertanggungjawaban Pidana


Azas dalam pertanggung-jawaban hukum pidana ialah "Tidak dipidana bila tidak ada kekeliruan" (Moeljatno, 1993 153). Dengan begitu, jika orang tidak bisa disebutkan memiliki kekeliruan, bila ia di saat lakukan tindakan pidana, bisa dicela dari sisi warga, yakni mengapa lakukan tindakan yang bikin rugi warga walau sebenarnya sanggup untuk mengetaliui arti tindakan itu. Terkecuali bila aktor tidak menyengaja lakukan, tetapi berlangsungnya tindakan itu karena aktor lupa pada kewajiban-kewajiban . Maka, untuk ada kekeliruan, jalinan di antara kondisi batin dengan tindakannya yang memunculkan kecaman barusan harus berbentuk tersengajaan atau kealpaan. Dengan begitu untuk ada kekeliruan, tersangka harus :

a) Melakukan tindakan yang memiliki sifat menantang hukum;

b) Mampu bertanggungjawab (di atas usia tertentu);

c) Mempunyai suatu bentuk kesalahan yang berupa tersengajaan atau kealpaan;

d) Tidak ada argumen pemaaf


Faktor Pemicu Tindak Pidana

1. Faktor-faktor yang muncul dari pada diri pribadi (intern)

Beberapa faktor yang mengambil sumber dari pada diri pribadi (internal) ini memiliki jalinan dengan munculnya satu perlakuan kejahatan. Factor internal dipisah jadi 2 (dua), yakni memiliki sifat khusus dan memiliki sifat umum :

a. Faktor internal yang memiliki sifat khusus

1) Sakit jiwa

Orang yang terserang sakit jiwa memiliki kecondongan untuk berlaku anti sosial.

2) Daya emosional

Permasalahan emosional kuat hubungan dengan permasalahan sosial yang bisa menggerakkan seorang untuk melakukan perbuatan menyelimpang.

3) Rendahnya psikis

Rendahnya psikis ada hubungan dengan intelegensial. Bila seorang memiliki daya intelegensial yang tajam bisa memandang realita, karena itu dia bisa sesuaikan dalam warga. Kebalikannya, bila seorang memiliki intelegensial rendah, karena itu dia tidak sanggup beradaptasi dengan warga.

4) Anomi

Secara psikis, personalitas manusia itu karakternya aktif, yang diikuti karena ada kehendak, berorganisasi, berbudaya, dan lain-lain. Karena itu anomi umumnya diikuti dengan ditinggalnya kondisi yang lama dan memulai mencapai pada kondisi yang baru. Sebagai ukuran orang bisa menjadi anomi atau kebingungan.


b. Faktor internal yang memiliki sifat umum

1) Umur

Semenjak kecil sampai dewasa, manusia selalu alami peralihan dalam jasmani dan rohaninya. Dengan begitu orang bisa melakukan perbuatan kejahatan.

2) Sex

Ini terkait dengan kondisi fisik. Fisik lelaki semakin kuat dari wanita. Karena itu peluang melakukan perbuatan jahat semakin besar dilaksanakan oleh lelaki.

3) Pendidikan pribadi

Ini memengaruhi kondisi jiwa, perilaku khususnya intelegensinya.

4) Hiburan untuk pribadi

Benar-benar kurang wisata dapat memunculkan kejahatan dalam warga.

2. Faktor-faktor yang muncul di luar diri pribadi (ekstem)

Beberapa faktor ini berawal di lingkungan di luar dari manusia, khususnya beberapa hal yang memiliki jalinan dengan munculnya kejahatan.

a. Faktor ekonomi

Berdasarkan teori Karl Marx, jika kejahatan cuman satu produk dari satu mekanisme ekonomi yang jelek.

b. Faktor agama

Etika ini memperlihatkan beberapa hal yang dilarang dan diwajibkan, yang mana baik dan yang jelek, hingga manusia bila sudah mempelajari dan pahami isi agama dia akan selalu jadi manusia baik.

c. Faktor bacaan dan film

Bacaan-bacaan yang jelek, pomo, dan kriminalitas sebagai beberapa faktor yang bisa mengakibatkan munculnya kejahatan.


Posting Komentar untuk "Tindak Pidana: Pengertian, Unsur-unsur, dan Faktor Pemicu"